Makna Fase Posesif pada Balita


Makna Fase Posesif pada Balita - Gaya Hidup

Makna Fase Posesif pada Balita (Depositphotos)

 - Ketika anak mulai bisa bicara, ada masanya mereka sangat posesif terhadap benda-benda di sekitar mereka. Mainan disentuh orang lain, marah. Makanan diminta sedikit, menangis. 

Begitulah, fase posesif ini terkadang menjengkelkan, karena anak mudah sekali berkonflik dengan anak seusia. Karena masing-masing merasa sebagai pemilik mainan atau benda lain, tidak jarang acara bermain berubah menjadi berebut mainan lalu menangis bersama. Bagaimana fase “semuanya punyaku” ini terjadi?

“Aku dan punyaku adalah beberapa dari kata-kata pertama yang biasa diucapkan bayi,” jelas Peter Blake, Ed.D., doktor psikologi perkembangan anak dari Universitas Boston, AS. Meski umumnya kata-kata yang kali pertama diucapkan anak adalah “mama” dan “papa”, tidak lama setelah itu mereka akan menyadari bahwa mereka bisa mengklaim sebuah objek hanya dengan penambahan kata sederhana: “ku”. Mereka akan mulai menambahkan kata “ku” di belakang kata objek, seperti “mamaku”, “papaku”, “bolaku”, “mobilku”, dan apa pun disebut “punyaku”.

Makna Fase Posesif pada Balita - Gaya Hidup

Makna Fase Posesif pada Balita (Depositphotos)

Meski menyebalkan, fase posesif yang biasa dimulai sejak anak berusia 18 bulan hingga 4 tahun ini sebenarnya menunjukkan tahap perkembangan yang baik dan wajar. “Ini menunjukkan bahwa mereka memahami konsep abstrak mengenai ikatan tak terlihat seseorang dengan sebuah benda,” jelas Susan Gelman, Ph.D., psikolog perkembangan anak dari Universitas Michigan di Ann Arbor, AS.

Gelman menjabarkan, pemikiran balita sangatlah sederhana. Anak usia 2-4 tahun meyakini, orang yang mengklaim kepemilikan sebuah benda adalah pemilik yang sah.

Hal baik lainnya, di fase ini anak mulai menyadari eksistensinya. Ketika bayi melihat dirinya di cermin, ia berasumsi yang dilihatnya di cermin adalah orang lain.

Namun setelah memasuki fase belajar bicara, bayi yang beranjak balita mulai memahami, yang mereka lihat di cermin adalah diri sendiri. Kepekaan balita menyadari keberadaannya bersamaan dengan mereka menyadari kepemilikannya. 

Ketika seorang anak mengklaim sesuatu dan hal itu disepakati orang lain, mereka merasakan eksistensi diri. Mereka ada, karena mereka bisa memiliki sesuatu. Ini sebabnya orang tua tidak disarankan untuk mematahkan keyakinan anak mengenai kepemilikan benda yang mereka klaim. 

(riz / gur)

Share.

Leave A Reply