Akhir tahun, cadangan devisa US$125 M


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa per akhir November 2017 sebesar US$ 125,97 miliar. Angka ini lebih rendah US$ 0,58 miliar dibanding posisi cadangan devisa per akhir Oktober 2017 sebesar US$ 126,55 miliar.

Menurut BI, penurunan ini diakibatkan besarnya penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah stabilisasi nilai tukar rupiah agar sesuai dengan fundamental. Alasan lainnya adalah menurunnya penempatan valuta asing perbankan di Bank Indonesia.

Meski turun, cadangan devisa masih cukup untuk membiayai 8,4 atau 8,1 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional tiga bulan impor. Cadangan ini pun masih dapat digunakan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Data ini sesuai dengan perkiraan ekonom Samuel Aset Sekuritas Lana Soelistyaningsih. Menurutnya, nilai rupiah yang tertekan di kisaran Rp 13.500 memaksa BI melakukan intervensi. Sementara, pemerintah tidak menerbitkan global bond sehingga tidak ada pemasukan dana.

Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede menerangkan, langkah BI untuk menstabilisasi nilai tukar rupiah terindikasi dari indeks dollar yang menguat 0,3% month on month (MoM). Selama November, nilai tukar rupiah cenderung stabil di level Rp 13.527/dollar.

Sementara, dana asing cenderung masuk di pasar keuangan. Foreign net buy tercatat US$2,6 miliar pada pasar obligasi meskipun foreign net sell tercatat sebesar US$1,4 miliar di pasar saham.

Josua menambahkan, BI cenderung menyerap lelang SBBI valas sebesar US$ 500 juta dibandingkan bulan sebelumnya yang menyerap US$ 755 juta. "Sampai akhir tahun cadangan devisa di kisaran US$125-128 miliar," kata Josua.

Bank Indonesia harus bersiap menghadapi kenaikan bunga The Fed. Belakangan nilai tukar rupiah melemah dengan adanya rencana tersebut ditambah rencana reformasi pajak Amerika Serikat yang berpotensi memperkuat dollar.

Menurut Josua, suku bunga acuan BI akan dipertahankan di level saat ini, yakni 4,25% hingga akhir tahun depan.

Hal itu berdasarkan pertimbangan ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate 25bps pada Desember tahun ini. Tahun depan FFR pun diperkirakan naik 2 sampai 3 kali sebesar 50-75bps.

Saat ini, tingkat suku bunga BI masih sejalan dengan sasaran inflasi dan stabilitas rupiah. Selain itu, kondisi first line of defense menunjukkan pasar keuangan Indonesia memiliki buffer yang dapat menahan capital flight dari pasar keuangan Indonesia.

BI juga sudah mengantisipasi second line of defense. "Rupiah akan stabil di tengah pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS," kata Josua.

Share.

Leave A Reply