Suami Direbut Pembantu Memilih Gugat Cerai Saja


SEBAGAI pembantu, jelas Wakinem 35, tak punya elektabilitas di mata majikan. Tapi karena istri Samiono, 45, makin njelehi (menyebalkan), elektabilitas Wakinem sampai 58 %. Dini, 40, pun selaku istri memilih gugat cerai ke Pengadilan Agama. Eh, suami setuju, dan elektabilitas Wakinem mencapai 100 %. Nikahlah mereka.

Hati-hati dengan pembantu muda nan cantik, bisa mengancam elektabilitas istri di mata lembaga survei. Ini sudah banyak kejadian. Penyebabnya macam-macam. Bisa suami kelewat genit, bisa pula istri memang kelakuannya sangat menyebalkan, sehingga suami justru lebih dekat dengan pembantu. Maka jika tiba-tiba pembantu mengundurkan diri, hati-hati. Siapa tahu……..

Dengan gaji yang pas-pasan, sebetulnya Samiono warga Tandes Surabaya ini belum layak punya pembantu. Tapi karena istri maunya jadi ibu rumahtangga yang santai, Samiono menerima saja saran istri untuk mempekerjakan Wakinem, orang sekampung Dini. Itung-itung menolong, karena Dini adalah janda yang baru ditinggal mati suami.

Sejak ada pembantu di rumah, Dini bisa fokus mengurus dua anaknya. Sedangkan soal masak dan mencuci dilimpahkan pada pembantu. Kebetulan masakan Wakinem ini maknyusss dan nendang banget, sehingga Samiono pun makin cocok pada pembantu barunya itu. Padahal ada ungkapan lama mengatakan; cinta lelaki bisa dimulai dari perut, baru kemudian mengarah yang di bawah perut.

Sebetulnya selama ini ada bara dalam sekam, di dalam rumahtangga Samiono-Dini. Soalnya, Dini terlalu mengatur suami. Misalnya, Samiono tidak boleh merokok, karena pengetatan karena postur anggaran tidak ada kemajuan. Ke kantor sehari hanya dijatah Rp 25.000,- untuk transpor dan jajan ala kadarnya. Bila ada sisa, harus dikembalikan pada istri.

Soal uang harian Rp 25.000,- Dini ketatnya minta ampun. Jika tak ada sisa, mesti dijelaskan untuk apa saja. Benar-benar Dini sudah seperti BPK saja. Cuma selaku “ouditor” Dini tak bisa disogok sama sekali macam oknum, agar Samiono dapat opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Dini juga tak kenal pemeo: cek sana cek sini tidak cocok, tapi diberi cek langsung cocok!

Paling menyebalkan buat Samiono, kontrol ketat soal rokok itu. Di rumah dia dilarang merokok, tapi di kantor dia klepas-klepus macam pabrik. Jika tak beli sendiri juga nebeng milik teman. Sampai di rumah ribut, karena mulut Samiono bau tembakau.

Wakinem selaku pembantu suka kasihan pada majikan lelakinya itu. Masak, dia yang cari duit kok anggaran sehari-hari diperketat. Diam-diam Wakinem suka mensuport Samiono pakai kata-kata klasik, “Yang sabar ya Pak…..” kata Wakinem, niru-niru solusi Gubernur DKI.

Dari situlah Samiono mulai tertarik pada pembantunya. Kebetulan Wakinem ini juga lumayan cantik. Maka elektabilitas pun mulai merayap naik, dari 10 % naik lagi jadi 30 %, dan sampai ke angka 58 %. Sebaliknya elektabilitas Dini selaku istri terus menurun sampai tinggal 25 %, sementara 17 persen abstain. Yang 17 % itu umumnya para tetangga sendiri.

Karena makin belakangan Samiono makin susah diatur, Dini pun menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya. Maksudnya untuk menggertak suaminya. Ternyata Samiono malah kegirangan. Sebab ketika vonis hakim jatuh, sama sekali Samiono tidak menyesal. Itu artinya elektabilitas Dini sudah nol %. “Saya sudah nikah siri sama pembantu saya,” kata Samiono saat ditanya tetangga.

Dini memang salah perhitungan. Maunya bikin kejutan, justru dia yang terkejut sendiri. Dia baru ingat, dua minggu lalu Wakinem menyatakan mundur. Dini sama sekali tidak keberatan, karena dikiranya mau ikut Pilgub Jatim, eh nggak tahunya malah merebut suaminya.

Mundur ikut Pilgub Jatim, memangnya Mensos? (JPNN/Gunarso TS)

Share.

Leave A Reply